Dough Vs Roti Matang

Salah satu bagian pizza adalah dasaran atau roti pizza. Di Indonesia, pada umumnya bahan utama roti pizza adalah tepung terigu. Sebagian lagi memakai tepung gandum.


Bahan tambahan berupa mentega, pengembang, gula, garam dan air. Proses pemasakannya di dalam oven pada suhu 200 derajat Celcius.


Ada dua cara pemasakan yang saya jumpai:

Roti dari adonan mentah (dough)

Adonan yang telah dicampur hingga kalis kemudian ditempatkan di atas loyang. Kemudian, bahan-bahan topping ditata diatas dough dan di bakar ke dalam oven hingga roti berwarna kecoklatan.

Roti dari adonan yang telah matang

Bingung dengan kalimat di atas? Adonan yang telah matang sama artinya dengan roti itu sendiri. Proses pembuatannya melalui dua tahap:

· Pembuatan roti pizza Dough ditempatkan ke dalam loyang sesuai ukuran dan dibiarkan mengembang selama kurang lebih 30 menit. Jika sudah mencapai setengah dari tinggi loyang baru kemudian dibakar di dalam oven hingga matang.

· Penataan bahan topping
Proses selanjutnya adalah penataan bahan-bahan topping sesuai menu pizza. Langkah terakhir adalah dibakar dalam oven selama 10 menit atau keju mozzarella telah meleleh.

Pilih cara memasak yang mana? Satu langkah langsung jadi, atau dua tahap? Dua-duanya memiliki keunggulan tersendiri.

Pada cara yang pertama, cita rasa roti yang dihasilkan lebih ‘kena’ di lidah. Wajar saja, rotinya masih fresh. Namun proses pemasakan harus teliti dan sabar. Jangan sampai ditemukan roti bagian tengah yang masih mentah.

Akan lebih aman bila menggunakan cara kedua. Karena roti yang dipakai sudah matang, resiko roti masih mentah dapat diminimalisir. Tetapi ada juga kekurangannya. Yaitu pada taste roti pizza. Karena biasanya roti yang telah dibakar tidak langsung ditopping, maka akan hilang kesan freshnya.

Nah, pilihan ada ditangan rekan pizzaholic mau pakai cara memasak yang mana. Mencoba lebih baik daripada diam, bukan?

No comments:

Post a Comment